Tampilkan postingan dengan label Sejarah Arsitektur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Arsitektur. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 April 2011

Ilmu Arsitektur & Sejarah

Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan kota, arsitektur lanskap, hingga ke level mikro yaitu desain bagunan, desain perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut.

RUANG LINGKUP DAN KEINGINAN

Menurut Vitruvius di dalam bukunya De Architectura (yang merupakan sumber tertulis paling tua yang masih ada hingga sekarang), bangunan yang baik haruslah memilik Keindahan / Estetika (Venustas), Kekuatan (Firmitas), dan Kegunaan / Fungsi (Utilitas); arsitektur dapat dikatakan sebagai keseimbangan dan koordinasi antara ketiga unsur tersebut, dan tidak ada satu unsur yang melebihi unsur lainnya. Dalam definisi modern, arsitektur harus mencakup pertimbangan fungsi, estetika, dan psikologis. Namun, dapat dikatakan pula bahwa unsur fungsi itu sendiri di dalamnya sudah mencakup baik unsur estetika maupun psikologis.

Arsitektur adalah bidang multi-dispilin, termasuk di dalamnya adalah matematika, sains, seni, teknologi, humaniora, politik, sejarah, filsafat, dan sebagainya. Mengutip Vitruvius, "Arsitektur adalah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan dilengkapi dengan proses belajar: dibantu dengan penilaian terhadap karya tersebut sebagai karya seni". Ia pun menambahkan bahwa seorang arsitek harus fasih di dalam bidang musik, astronomi, dsb. Filsafat adalah salah satu yang utama di dalam pendekatan arsitektur. Rasionalisme, empirisme, fenoenologi strukturalime, post-strukturalisme dan dekonstruktivisme adalah beberapa arahan dari filsafat yang memengaruhi arsitektur.

TEORI & PRAKTIK

Pentingnya teori untuk menjadi rujukan praktik tidak boleh terlalu ditekankan, meskipun banyak arsitek mengabaikan teori sama sekali. Vitruvius berujar: "Praktik dan teori adalah akar arsitektur. Praktik adalah perenungan yang berkelanjutan terhadap pelaksanaan sebuah proyek atau pengerjaannya dengan tangan, dalam proses konversi bahan bangunan dengan cara yang terbaik. Teori adalah hasil pemikiran beralasan yang menjelaskan proses konversi bahan bangunan menjadi hasil akhir sebagai jawaban terhadap suatu persoalan. Seorang arsitek yang berpraktik tanpa dasar teori tidak dapat menjelaskan alasan dan dasar mengenai bentuk-bentuk yang dia pilih. Sementara arsitek yang berteori tanpa berpraktik hanya berpegang kepada "bayangan" dan bukannya substansi. Seorang arsitek yang berpegang pada teori dan praktik, ia memiliki senjata ganda. Ia dapat membuktikan kebenaran hasil rancangannya dan juga dapat mewujudkannya dalam pelaksanaan". Ini semua tidak lepas dari konsep pemikiran dasar bahwa kekuatan utama pada setiap Arsitek secara ideal terletak dalam kekuatan idea.

SEJARAH

Arsitektur lahir dari dinamika antara kebutuhan (kebutuhan kondisi lingkungan yang kondusif, keamanan, dsb), dan cara (bahan bangunan yang tersedia dan teknologi konstruksi). Arsitektur prasejarah dan primitif merupakan tahap awal dinamika ini. Kemudian manusia menjadi lebih maju dan pengetahuan mulai terbentuk melalui tradisi lisan dan praktik-praktik, arsitektur berkembang menjadi ketrampilan. Pada tahap ini lah terdapat proses uji coba, improvisasi, atau peniruan sehingga menjadi hasil yang sukses. Seorang arsitek saat itu bukanlah seorang figur penting, ia semata-mata melanjutkan tradisi. Arsitektur Vernakular lahir dari pendekatan yang demikian dan hingga kini masih dilakukan di banyak bagian dunia.

Permukiman manusia di masa lalu pada dasarnya bersifat rural. Kemudian timbullah surplus produksi, sehingga masyarakat rural berkembang menjadi masyarakat urban. Kompleksitas bangunan dan tipologinya pun meningkat. Teknologi pembangunan fasilitas umum seperti jalan dan jembatan pun berkembang. Tipologi bangunan baru seperti sekolah, rumah sakit, dan sarana rekreasi pun bermunculan. Arsitektur Religius tetap menjadi bagian penting di dalam masyarakat. Gaya-gaya arsitektur berkembang, dan karya tulis mengenai arsitektur mulai bermunculan. Karya-karya tulis tersebut menjadi kumpulan aturan (kanon) untuk diikuti khususnya dalam pembangunan arsitektur religius. Contoh kanon ini antara lain adalah karya-karya tulis oleh Vitruvius, atau Vaastu Shastra dari India purba. Di periode Klasik dan Abad Pertengahan Eropa, bangunan bukanlah hasil karya arsitek-arsitek individual, tetapi asosiasi profesi (guild) dibentuk oleh para artisan / ahli keterampilan bangunan untuk mengorganisasi proyek.

Pada masa Pencerahan, humaniora dan penekanan terhadap individual menjadi lebih penting daripada agama, dan menjadi awal yang baru dalam arsitektur. Pembangunan ditugaskan kepada arsitek-arsitek individual - Michaelangelo, Brunelleschi, Leonardo da Vinci - dan kultus individu pun dimulai. Namun pada saat itu, tidak ada pembagian tugas yang jelas antara seniman, arsitek, maupun insiyur atau bidang-bidang kerja lain yang berhubungan. Pada tahap ini, seorang seniman pun dapat merancang jembatan karena penghitungan struktur di dalamnya masih bersifat umum.

Bersamaan dengan penggabungan pengetahuan dari berbagai bidang ilmu (misalnya engineering), dan munculnya bahan-bahan bangunan baru serta teknologi, seorang arsitek menggeser fokusnya dari aspek teknis bangunan menuju ke estetika. Kemudian bermunculanlah "arsitek priyayi" yang biasanya berurusan dengan bouwheer (klien)kaya dan berkonsentrasi pada unsur visual dalam bentuk yang merujuk pada contoh-contoh historis. Pada abad ke-19, Ecole des Beaux Arts di Prancis melatih calon-calon arsitek menciptakan sketsa-sketsa dan gambar cantik tanpa menekankan konteksnya.

Sementara itu, Revolusi Industri membuka pintu untuk konsumsi umum, sehingga estetika menjadi ukuran yang dapat dicapai bahkan oleh kelas menengah. Dulunya produk-produk berornamen estetis terbatas dalam lingkup keterampilan yang mahal, menjadi terjangkau melalui produksi massal. Produk-produk sedemikian tidaklah memiliki keindahan dan kejujuran dalam ekspresi dari sebuah proses produksi.

Ketidakpuasan terhadap situasi sedemikian pada awal abad ke-20 melahirkan pemikiran-pemikiran yang mendasari Arsitektur Modern, antara lain, Deutscher Werkbund (dibentuk 1907) yang memproduksi obyek-obyek buatan mesin dengan kualitas yang lebih baik merupakan titik lahirnya profesi dalam bidang desain industri. Setelah itu, sekolah Bauhaus (dibentuk di Jerman tahun 1919) menolak masa lalu sejarah dan memilih melihat arsitektur sebagai sintesa seni, ketrampilan, dan teknologi.

Ketika Arsitektur Modern mulai dipraktikkan, ia adalah sebuah pergerakan garda depan dengan dasar moral, filosofis, dan estetis. Kebenaran dicari dengan menolak sejarah dan menoleh kepada fungsi yang melahirkan bentuk. Arsitek lantas menjadi figur penting dan dijuluki sebagai "master". Kemudian arsitektur modern masuk ke dalam lingkup produksi masal karena kesederhanaannya dan faktor ekonomi.

Namun, masyarakat umum merasakan adanya penurunan mutu dalam arsitektur modern pada tahun 1960-an, antara lain karena kekurangan makna, kemandulan, keburukan, keseragaman, serta dampak-dampak psikologisnya. Sebagian arsitek menjawabnya melalui Arsitektur Post-Modern dengan usaha membentuk arsitektur yang lebih dapat diterima umum pada tingkat visual, meski dengan mengorbankan kedalamannya. Robert Venturi berpendapat bahwa "gubuk berhias / decorated shed" (bangunan biasa yang interior-nya dirancang secara fungsional sementara eksterior-nya diberi hiasan) adalah lebih baik daripada sebuah "bebek / duck" (bangunan di mana baik bentuk dan fungsinya menjadi satu). Pendapat Venturi ini menjadi dasar pendekatan Arsitektur Post-Modern.

Sebagian arsitek lain (dan juga non-arsitek) menjawab dengan menunjukkan apa yang mereka pikir sebagai akar masalahnya. Mereka merasa bahwa arsitektur bukanlah perburuan filosofis atau estetis pribadi oleh perorangan, melainkan arsitektur haruslah mempertimbangkan kebutuhan manusia sehari-hari dan menggunakan teknologi untuk mencapai lingkungan yang dapat ditempati. Design Methodology Movement yang melibatkan orang-orang seperti Chris Jone atau Christopher Alexander mulai mencari proses yang lebih inklusif dalam perancangan, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Peneilitian mendalam dalam berbagai bidang seperti perilaku, lingkungan, dan humaniora dilakukan untuk menjadi dasar proses perancangan.

Bersamaan dengan meningkatnya kompleksitas bangunan, arsitektur menjadi lebih multi-disiplin daripada sebelumnya. Arsitektur sekarang ini membutuhkan sekumpulan profesional dalam pengerjaannya. Inilah keadaan profesi arsitek sekarang ini. Namun demikian, arsitek individu masih disukai dan dicari dalam perancangan bangunan yang bermakna simbol budaya. Contohnya, sebuah museum senirupa menjadi lahan eksperimentasi gaya dekonstruktivis sekarang ini, namun esok hari mungkin sesuatu yang lain.

KESIMPULAN

Bangunan adalah produksi manusia yang paling kasat mata. Namun, kebanyakan bangunan masih dirancang oleh masyarakat sendiri atau tukang-tukang batu di negara-negara berkembang, atau melalui standar produksi di negara-negara maju. Arsitek tetaplah tersisih dalam produksi bangunan. Keahlian arsitek hanya dicari dalam pembangunan tipe bangunan yang rumit, atau bangunan yang memiliki makna budaya / politis yang penting. Dan inilah yang diterima oleh masyarakat umum sebagai arsitektur. Peran arsitek, meski senantiasa berubah, tidak pernah menjadi yang utama dan tidak pernah berdiri sendiri. Selalu akan ada dialog antara masyarakat dengan sang arsitek. Dan hasilnya adalah sebuah dialog yang dapat dijuluki sebagai arsitektur, sebagai sebuah produk dan sebuah disiplin ilmu. (wikipedia)

Rabu, 20 April 2011

ARSITEKTUR GOTHIK

Katedral Reims, Perancis

Arsitektur Gothik adalah gaya arsitektur yang digunakan selama abad pertengahan tengah dan akhir. Gaya ini berevolusi dari arsitektur Romanesque dan diteruskan oleh arsitektur Renaisasnce. Arsitektur ini berasal dari Perancis abad ke-12.

Sabtu, 16 April 2011

ARSITEKTUR KLASIK

Arsitektur klasik adalah gaya bangunan dan teknik medesain yang mengacu pada zaman klasik Yunani, seperti yang digunakan di Yunani Kuno pada periode Helenistik dan Kekaisaran Romawi. Dalam sejarah arsitektur, Arsitektur Klasik ini juga nantinya terdiri dari gaya yang lebih modern dari turunan gaya yang berasal dari Yunani.

SEJARAH

Saat orang berpikir tentang arsitektur klasik, umumnya mereka berpikir sebuah bangunan yang terbuat dari kayu, batu, dll. Dalam beberapa kasus hal tersebut benar, namun arsitektur klasik juga banyak memiliki napas modern dan desain gedung yang rumit. Misalnya, atap, tiang, bahkan struktur batu atau marmer dibuat dengan detail sempurna.

Langgam Arsitektur Klasik muncul bersamaan dengan dimulainya peradaban tulisan secara formal. Belum ditemukan secara spesifik kapan era ini dimulai maupun berakhir. Namun, jenis langgam ini banyak dijumpai di benua Eropa. Dalama beberapa alasan, jenis arsitektur ini dibangun dengan tiga tujuan: sebagai tempat berlindung (fungsi rumah tinggal, sebagai wadah penyembahan Tuhan (fungsi rumah peribadatan) dan tempat berkumpul (balai kota, dsb). Untuk alasan kedua dan ketiga inilah bangunan ini dibuat sedetail mungkin dan seindah mungkin dengan memberi ornamen-ornamen hiasan yang rumit.

Seiring waktu berlalu, bangunan menjadi lebih rumit dan lebih rinci. Beberapa peradaban yang tumbuh dari batu dan lumpur turut memperkaya ragam bentuk Arsitektur Klasik, misalnya candi dan kuburan orang-orang Mesir.

ARSITEKTUR KLASIK SAAT INI

Bentuk-bentuk arsitektur klasik masih eksis hingga saat ini dan diadopsi dalam bangunan-bangunan modern. Pilar-pilar besar, bentuk lengkung di atas pintu, atap kubah, dsb adalah sebagian ciri Arsitektur Klasik. Ornamen-ornamen ukiran yang rumit dan detail juga kerap menghiasi gedung-gedung yang dibangun di masa sekarang.

Kamis, 11 November 2010

Perpustakaan Alexandria : Perpaduan Masa Silam dan Depan

Pada Suatu ketika Presiden Mesir Hosni Mubarak berdiri tegak di atas sebuah podium, ia berbicara di depan ribuan undangan. Presiden Prancis Jacques Chirac, Ratu Sofia dari Spanyol, Ratu Tania dari Yordania, dan Presiden Yunani Costis Stephanopolous tampak duduk di bangku terdepan. Siang itu Mubarak sejenak melupakan masalah Israel yang terus menyerbu Palestina. “Tempat ini adalah sumber ilmu pengetahun dan pertemuan budaya,” katanya.
Tempat yang di maksud Mubarak bukan kampus tertua di dunia Universitas Al Azhar. Bukan pula terusan Suez atau bangunan Piramid yang menyimpan legenda. Tempat yang ditunjuk Mubarak adalah Perpustakaan Alexandria. Setelah 16 abad “punah”, peninggalan Ptolemeus I Soter ini dibangun kembali. Inilah perpustakaan tertua di dunia, yang dibangun kira-kira 295 tahun sebelum masehi oleh Ptolemeus sebagai penerus Alexander Agung.

Perpustakaan yang semula menyimpan 500 ribu buku ini sempat luluh-lantak diserbu tentara Kerajan Romawi kala menaklukkan Mesir. Hanya bangunan utama yang tersisa, dan sayangnya hanya bertahan hingga abad ke-4 masehi. Peninggalan semata wayang itu sirna pula ketika api melalap seisi bangunan tak lama kemudian. Sejak itu Perpustakaan Alexandria praktis tinggal nama. “Sekarang kebanggaan Mesir ini resmi dibuka,” kata Mubarak. Rabu siang itu Perpustakaan Alexandria lahir kembali di bumi Paraoh.
Ide membangun kembali Perpustakaan Alexandria, mulanya muncul dari akademisi Universitas Alexandria Mesir pada awal 1970-an. Pemerintah Mesir menyambut hangat, tapi gagal merealisasikannya. Keinginan serupa muncul kembali pada pertangahan 1980-an, tapi realisasinya setali tiga uang. Memasuki era 1990-an, ide sejenis kembali digulirkan, sampai akhirnya UNESCO turun tangan mendeklarasikan dukungan pembangunan bersejarah ini.

Ini adalah proyek prestius. Melibatkan banyak negara untuk mendukung dana. Maklum, semula anggaran yang dibutuhkan hanya US$ 160 juta, tapi belakangan membengkak sampai US$ 230 juta. Melonjaknya dana yang harus ditanam itu berkaitan dengan kemegahan bangunan. “Ini bukan bangunan biasa,” kata Mohsen Zahran, mantan wakil presiden Bank Dunia yang ditunjuk menjadi manajer proyek.
Untuk memperoleh desain yang ideal, panitia mengadakan kompetisi internasional. Dari 523 peserta, karya firma arsitektur Snohetta dari Norwegia yang hasilnya sangat dinikmati Mubarak itulah pemenangnya. Firma ini bekerja sama dengan konsorsium Hamza Associated dari Kairo Mesir. “Konsep dasarnya adalah bangunan yang memancarkan ilmu pengetahuan dan budaya,” kata Cristhop Kappelar, koordinator arsitek Snohetta.
Letak Perpustakaan Alexandria tak jauh dari gedung Fakultas Seni Universitas Alexandria di wilayah Shatby. Perpustakaan ini menghadap kearah utara, tepat di bibir laut Mediterania. Secara garis besar, bentuk keseluruhan banguan menyerupai lingkaran sederhana untuk merepresentasikan sinar Mesir. Diameter bangunannya 160 meter cukup luas. Konsep lingkaran ini ditetaskan sebagai simbol Mesir menerangi dunia dan peradaban manusia, yang sesuai dengan visi Alexandria.
Salah satu bentuk peradaban manusia yang direkam perpustakaan ini, dapat dilihat pada dinding luar yang terbuat batu granit Zimbabwe seluas delapan ribu meter persegi. Dinding yang disusun dengan batu berukuran 2 x 1 meter itu dipahat aneka huruf dari berbagai bahasa, yang pernah dikenal manusia selama 10.000 tahun lebih dari 500 kebudayaan di dunia. Di sini timbul kesan yang amat kuat tentang betapa tingginya peradaban manusia di bidang tulis menulis.

Di dekat dinding batu itu, sengaja diletakkan sebuah kolam air. Dengan demikian, ketika matahari sedang “menyala” dengan hebatnya, pantulannya dibelokkan oleh dinding dan air di kolam menuju beberapa bagian ruang perpustakaan sebuah efek yang kontras dan harmonis, yang meninggalkan kesan sebuah pertumbuhan geologis.
Perpustakaan Alexandria memang “terampil” memanfaatkan cahaya alam untuk menerangi ruangan. Selain mengandalkan duet dinding dan air kolam, atapnya yang terbuat dari kaca itu juga didesain mampu meloloskan sinar matahari. Hanya saja, agar tak menyilaukan penghuni perpustakaan berlantai delapan ini, atapnya dibuat landai dan berlereng-lereng. Filterisasi cahaya juga dilakukan oleh langit-langitnya yang juga berundak-undak. Hasilnya, selain tak membuat penghuninya menjadi silau, cahaya yang menerobos isi ruangan akan membentuk siluet pada langit-langit setinggi 17 meter dari lantai itu. “Seperti lukisan di atas kanvas,” kata Kappelar.

Kelebihan lain dari atap kaca itu adalah pemandangan laut yang dapat dinikmati penghuni perpustakaan, khususnya di ruang baca yang menyediakan dua ribu tempat duduk. Ruang bacanya sendiri tak kalah istimewanya. Ruangan ini menyita separuh dari total ruang, yang berbentuk amphiteater. Arsitek Norwegia yang merancangnya cukup jeli melihat setiap sudut bangunan, termasuk pemilihan furnitur yang merupakan bagian integral dari keseluruhan bangunan.
Ruang baca utama di bagian tengah bangunan dibuat berjenjang. Meja baca, kursi, dan rak buku didesain berjajar untuk mendapatkan pemandangan yang menarik. Jika dilihat dari balkon, letak furnitur di ruang ini dapat dibaca sebagai “bagian muka horizontal”. Desain ruang ini sangat memperhitungkan aspek ergonomis, kemiringan dinding dan atap kaca, sebuah kalkulasi yang merupakan refleksi artistik dari sejarah desain Mesir.

Sebagai bagian dari sejarah, bangunan yang begitu memukau Presiden Mubarak mungkin juga Anda, bila berkesempatan melongoknya dari dekat tetap mempertahankan planetarium berbentuk bulat di bagian luar gedung. Planetarium ini adalah simbol kemampuan manusia ketika mendaratkan kaki pertama kali di bulan beberapa tahun silam. Bersama bangunan perpustakaan yang menjadi bangunan utamanya, genaplah cita-cita arsiteknya yang ingin memadukan kebudayaan masa silam dan masa depan. (TEMPO)

Kamis, 28 Oktober 2010

Pecinan dan Sejarah Kecinaan

Pecinan sebagai sebuah locus warisan, dan dinamika budaya ‘asli’ Cina di Indonesia. Tulisan ini mempertanyakan ketepatan gencarnya citra-citra kecinaan yang dipertontonkan di hadapan publik kita dengan memaparkan serentang sejarah perkembangan Pecinan untuk dapat memberikan deskripsi dari sudut pandang yang lebih kritis.

Bila ditinjau dari sejarah perkembangannya, Pecinan menempati fungsi yang spesifik dan vital dalam pembentukan dan modernisasi kota-kota di Asia Tenggara. Istilah Pecinan sendiri sebenarnya problematik karena lebih merupakan sebuah kategori etnis atau rasial yang mulai berlaku ketat sejak pemberlakuan zone etnis di era kolonial Belanda (Wijkenstelsel, 1835-1915).

Pada era pra-kolonial, Pecinan merupakan kantong-kantong pendatang yang kosmopolit dan memainkan peran sebagai pusat pertumbuhan dan rantai penting ekonomi bagi kerajaan Nusantara di era perdagangan maritim di kawasan ini. Kantong-kantong kosmopolitan itu didatangi manusia dari berbagai penjuru dunia: Arab, India, Cina, Melayu, Bugis, dan lain-lain.

Dengan melimpahnya bukti-bukti artefak dan berbagai produk budaya, sinkretisme dan akulturasi budaya pesisir telah diakui mendominasi kehidupan di kawasan ini. Komposisi fisik kota-kota pesisir pra-kolonial ini secara garis besar didasarkan pada integrasi kelompok-kelompok etnis yang otonom namun interdependen. Secara budaya, menariknya, kelompok-kelompok tersebut berbaur sekaligus menjaga identitas kulturalnya dalam tahapan tertentu, tergantung dari dinamika demografis ketimbang desakan politis. Bahkan ekspedisi politis Admiral Zheng He (Cheng Ho, 1405-1433) ke Asia Tenggara juga terkait erat dengan misinya menyebarkan agama Islam, sehingga berhasil menciptakan komunitas Muslim di pesisir Jawa.

Pola penataan perkotaan ini juga menampilkan konfigurasi kosmis berdasarkan keyakinan budaya masing-masing, dipadukan dengan jiwa interdependensi dan toleransi masing-masing kelompok. Tempat-tempat ibadah ditempatkan berdampingan di letak yang ‘seharusnya’, demikian pula dengan fungsi-fungsi publik. Identitas yang ‘hibrid’ dijewantahkan ke dalam berbagai bentuk budaya material, mulai dari kain (batik), seni boga, seni pertunjukkan hingga bangunan-bangunan ibadah.

Serapan-serapan budaya seringkali tidak hanya berbentuk seni elite, tapi juga pada kehidupan sehari-hari yang sifatnya lebih ‘mendasar’, seperti gaya hidup atau konsep bermukim. Namun pada tingkatan lain, pembedaan identitas nampaknya tetap dibutuhkan dan ditunjukkan pula lewat berbagai atribut.

Menurut sosiolog perkotaan Hans-Dieter Evers, masyarakat Cina cenderung memperlakukan ruang dan lingkungan sebagai suatu yang terukur dan jelas batas fisiknya, sedangkan masyarakat Melayu cenderung lebih fleksibel dan cair. Bisa jadi hipotesis yang diutarakan benar pada tataran pengamatan fisik, namun perlu ditinjau lebih jauh mengenai konteks perbedaan konsep mengenai lingkungan tersebut dicetuskan.

Jika kita berpijak pada keyakinan akan relativitas budaya (Claude Levi-Strauss dalam Race et Historie, 1957), lebih beralasan rasanya perbedaan itu didasarkan pada peran dan fungsi sosial ekonomi politik masing-masing kelompok masyarakat di dalam sistem sosial yang ada ketimbang mencari penyebabnya dalam masing-masing budaya atau ras. Namun perbincangan mengenai kondisi pra-kolonial ini masih merupakan subjek kajian budaya yang selalu terbuka dan menarik untuk terus digugat seiring keterbatasan dan kreatifitas kita untuk membaca artefak-artefak sejarah.

Menurut pandangan multikulturalis, problem sesungguhnya dipupuk mulai dari kependudukan rezim kolonial dan berlakunya kategorisasi. Sejarahwan Onghokham (dan banyak pakar sosial politik lainnya) dengan tegas menyatakan bahwa kecinaan yang merupakan konstruksi politik kolonial, dibuktikan dengan seperangkat hukum dan peraturan yang dikeluarkan pemerintah kolonial terutama semasa Tanam Paksa (Cultuurstelsel, 1830-1870). Mulai dari penentuan zona permukiman berdasar etnis (Wijkenstelsel), penerapan pas jalan (Passenstelsel, 1863), hingga penentuan atribut-atribut yang harus dikenakan golongan etnis tertentu, sehingga menciptakan batas-batas tegas identitas apakah seseorang itu Eropa, Pribumi, Arab atau Cina.

Batas-batas itu dipelihara dan direproduksi untuk terus mengingatkan kesadaran seseorang akan identitas rasialnya yang terasosiasi juga dengan peran ekonomi sosial dan politiknya dalam masyarakat kolonial. Batas-batas itu selain mengatur hak dan kewajiban administratif masyarakat Cina (agama, perkawinan, pendidikan, dan lain-lain) juga secara efektif mengatur model pakaian, potongan rambut, hingga aksesoris yang dibawa bepergian.

Meskipun tidak setegas aturan-aturan lain, Liem Thian Joe (Riwajat Semarang, 1933) mencatat bahwa ada seorang pengusaha Cina yang didenda karena membuat bangunan mirip bangunan Pemerintahan Kolonial di Semarang, yang menandakan bahwa kategorisasi ‘gaya arsitektur’ berdasarkan etnis/ras juga diterapkan. Pemerintah Kolonial juga mengatur tipologi ruang jalan dan lingkungan kota berdasarkan ras, sehingga kita secara visual dapat mengenali yang mana itu Pecinan, Kampung Melayu, Kampung Arab, dan lain-lain.

Pada kenyataannya, kategorisasi tidak selalu ditepati secara rigid. Penggunaan atribut identitas juga bukan merupakan tembok masif yang tegas dan tak bisa ditembus. Ada kelompok masyarakat yang berpijak di antara kategori itu, sehingga terjadi pencampuradukan atribut tersebut untuk menampilkan identitas ‘hibrid’ mereka.

Pemerintah Kolonial menciptakan kalangan elite Cina (juga demikian halnya dengan kelompok masyarakat lain) yang beridentitas kebaratan, sekaligus kecinaan. Arsitektur elite yang kadang ‘bernuansa Barat’ kadang ‘bernuansa Cina’ (atau campuran keduanya atau dari campuran dari banyak langgam), pun tampil kontras dari deretan ruko-ruko Cina yang rapat dan rumah-rumah sederhana Pribumi.

Tipologi vila, bangunan rumah tunggal yang dikelilingi halaman yang luas, akhirnya dipatok sebagai tipologi ‘kelas atas’, seperti juga banyak elemen gaya hidup tertentu yang dipicu oleh tuntutan hidup di rumah-rumah seperti itu. Pendirian bangunan/gedung baru merupakan berita tersendiri di komunitas-komunitas ini, sehingga mempertajam peran arsitektur dalam mendefinisikan identitas dan modernitas.

Klenteng-klenteng, karena peran sentralnya sebagai pusat komunitas masyarakat dan pelestarian budaya Cina, secara fisik dan ritual tampil konservatif, sehingga mampu tampil sebagai ikon identitas Cina yang dilestarikan dan direproduksi hingga kini. Sebagai contoh, keberadaan Kampoeng China di Cibubur dan Masjid H.M. Cheng Ho Indonesia di Surabaya juga akhirnya turut menggambarkan citra kecinaan dengan mengambil bahasa arsitektural yang kerap muncul di brosur pariwisata, majalah, atau siaran televisi.

Citra-citra sejenis, seperti Naga dan Barongsai, juga kerap ditampilkan pada era pasca-Orde Baru, seakan-akan merupakan satu-satunya cara menggambarkan kiprah kebudayaan Cina di Nusantara ini. Tanpa langsung disadari, sebenarnya kita selama ini mengkonsumsi gambaran kecinaan yang eksklusif dan orientalis ini, yang sebenarnya miskin pengertian akan sejarah masyarakat Cina di Indonesia yang penuh liku dan nilai. Pecinan sebenarnya merupakan saksi hidup sejarah yang masih menyimpan ritual, prosesi, dan mitos yang sebenarnya menggambarkan kekayaan khazanah budaya yang sedang digali lebih lanjut. Jika kita dapat melakukannya, tentu saja kita tidak lagi perlu mengimpor berbagai atribut kecinaan buatan Singapura, Taiwan, atau Hongkong. (TEMPO)

Rabu, 20 Oktober 2010

JEJAK ARSITEKTUR ACROPOLIS NEGARA KOTA ZAMAN YUNANI KUNO

by. Krisen S. Emha
Panorama Acropolis adalah kuil-kuil bersejarah, pemandangan perbukitan yang indah, dan arsitektur kota yang tak berpihak kepada militerisme.

Demokrasi dalam bidang politik yang kita kenal pada saat ini merupakan salah satu sumbangan dari Dynasty Hellenislic (650-30 SM) pada zaman kekaisaran Yunani Kuno, dimana hak-hak sipil untuk menyampaikan pendapat secara bebas diakui. Hal ini terlihat dari tatanan kota-kota pada zaman Yunani Kuno yang berupa Negara kota, dimana terdapat ruang-ruang terbuka untuk aktifitas demokrasi dan ditandai dengan bangunan-bangunan Negara untuk pihak eksekutif, legislatif dan yudikatif, salah satunya adalah Acropolis. Itulah tradisi athen yang tidak bertujuan kepada militerisme, sehingga kota-kota di zaman Yunani Kuno sering mendapat serangan dari bangsa-bangsa di sekitarnya, terutama dari Persia.

Berbeda dari tradisi Spartan yang banyak terdapat pada kota-kota abad pertengahan di kawasan Bavaria atau Jerman sekarang yang memang menunjukkan keunggulan bangsanya melalui kemenangan dalam peperangan. Konsep demokrasi tersebut dirumuskan kembali oleh ilmuwan Prancis setelah abad pertengahan, Montesquieu (1689-1755), dalam Esprit des Lois.

Acropolis dibangun pada masa kepemimpinan kaisar Pericles (495-429 SM) yang merupakan zaman keemasan Yunani di Athena. Acropolis terletak pada lokasi yang menarik pada sebuah perbukitan kota Athena, dan dari sini dapat dinikmati pemandangan kekawasan perdagangan Athena, Agora (sebuah pasar) yang merupakan pusat keramaian, sehingga Acropolis menyimbolkan dewi kebijaksanaan, keadilan, semangat dan inspirasi penduduk Athena.

Lingkungan utama komplek Acropolis terdiri dari kuil-kuil yang membentuk sebuah panorama kota, antara lain terdiri dari: Erichteion, Parthenon, Nike dan Propylaea. Erichteion adalah sebuah bangunan kuil yang masih baru dan sangat indah sebagai pengganti bangunan sebelumnya yang mengalami kehancuran pada 480 SM akibat peperangan dengan bangsa Persia yang dipimpin Salamis.

Kuil ini dibangun oleh arsitek Mnesicles antara tahun 421-405 SM dan memiliki ukuran yang kecil, tak beraturan, bertingkat dengan gaya kolom ionic. Kuil ini terletak pada tapak yang aneh yaitu dikelilingi oleh hutan keramat dan tanah perkuburan. Terdapat tiga ciri utama kuil ini, yaitu adanya beranda, jendela di setiap bagian dari pintu di beranda sebelah timur dan ornamen berbentuk gadis pada kolom yang berfungsi sebagai penopang atap beranda bagian selatan. Bentuk ini sedikit ramping dan berkesan seolah-olah sedang menjunjung beban berupa atap.

Parthenon adalah kuil yang merupakan tempat suci agung dimana terdapat sebuah patung yang sangat besar, yang terbuat dari gading dan emas. Parthenon merupakan bangunan yang sangat menonjol dan merupakan pusat dari Acropolis. Parthenon dibangun antara 447-438 SM sebagai karya dari arsitek Ictimus (Iktinos) dan Callicrates (Kallikrates) dan ahli pematung Phidias (Pheidias). Bangunan Parthenon dikatakan sebagai ‘kesempurnaan terbesar dari karya kuil Doric yang pernah di bangun', sebuah penampilan dengan proporsi sempurna yang dihasilkan oleh ahli maya-loka Athena.

Nike merupakan kuil terkecil yang bagi penduduk Athena dianggap sebagai kuil pembawa keberuntungan bagi kota Athena. Propylaea adalah bangunan berbentuk pintu gerbang karya arsitek mnesicless, tapi pembangunannya tak sempat diselesaikan karena terjadi peperangan dengan bangsa Peloponnesia. Puing-puing dari bangunan tersebut masih bisa dilihat sampai sekarang, tetapi ada beberapa bangunan yang benar-benar sudah hilang antara lain; Pinacotheca (sebuah gallery seni), Theater Dionysus, Odeon (sebuah ruang musik dari Herodes Atticus) dan Stoa (sebuah tempat berteduh dan tempat berpameran dengan colonnade dari Eumenes). Juga
terdapat patung Promachos karya Pheidias yang sangat besar dan terbuat dari perunggu dan mendominasi wajah kota.

Athena yang berpusat di Acropolis merupakan kota pertama pada zaman Yunani Kuno yang sampai sekarang masih bisa dilihat. Pada zaman inilah kayu mulai dipakai sebagai bahan konstruksi bangunan dan disebut dengan istilah Carpenty in marble. Arsitek Romawi Marcus Vitrivius Pollio banyak menulis tentang arsitektur yang bersumber dari sini, yang ditulis dalam bukunya De Architettura yang terdiri dari 10 buku.

Dalam buku itu terdapat prinsip simetri, harmoni dan proporsi yang merupakan perluasan dari prinsip proporsi, komposisi dan presisi dari zaman Yunani Kuno yang disebut Entasis. Konsep ini lebih rinci terlihat dalam bentuk orde (ornamen kolom) arsitektur yang ditemukannya.

Orde Doric dan Ionic berasal dari zaman Yunani Kuno yang mengambil nama dari dua kelompok suku bangsa Yunani, yaitu Doria (Turunan Italia dan Sicilia) dan Ionia (Turunan Asia Kecil), sebagai kelanjutan dari orde Corinthian yang berasal dari zaman Romawi. Dan karya Vitrivius inilah yang dikenal sebagai Histori Clasicisme dalam teori arsitektur Continental (Eropa daratan) yang berwujud 'greeko-Roman' setelah Renaissance.

Ada beberapa bangunan lainnya di Acropolis yang cukup menarik, antara lain: Boulenterion; bangunan legislative, Prytaneion; bangunan eksekutif, Haliaea; banguan yudikatif dan Mycenaean Megaron sebagai bangunan tempat tinggal atau rumah para pemimpin. Acropolis sampai sekarang tetap menjadi rujukan dalam Urban Design. Arsitektur Acropolis adalah acuan dari arsitektur berwujud Greeko-Roman yang pernah ditolak secara formal oleh gerakan Bauhaus di Jerman dan beberapa Negara lainnya di daratan Eropa pada awal 1900-an dimana telah menguasai daratan Eropa sejak abad pertengahan setelah Renaissance.

Sejatinya dasar teori arsitektur Greeko-Roman oleh sebagian besar sejarawan dan kritikus arsitektur dianggap sebagai ilmu arsitektur yang paling abadi karena muncul di sepanjang zaman, termasuk pada zaman modern sekarang ini.

Minggu, 10 Oktober 2010

MUSEUM BATA, Kisah Manusia dari Jejak Sepatu

Meseum Sepatu Bata adalah museum sepatu yang terlengkap di dunia. Lebih dari 10 ribu pasang sepatu tersimpan rapi di museum yang didirikan pada 1995 itu. Selain sepatu aktor dan aktris Hollywood seperti Marylin Monroe dan aktor Robert Redford, sepatu para pemimpin dunia seperti istri mantan presiden Filipina Imelda Marcos atau sepatu milik mantan PM India Indira Gandhi juga tersimpan di meseum yang terletak di Toronto, Kanada, yang menghabiskan investasi hingga US$ 12 juta.

Sepatu koleksi Robert Redford misalnya, kebanyakan sepatu lars. Sepatu Imelda Marcos umumnya sepatu wanita dengan hak tinggi. Sepatu milik mantan PM India, Indira Gandhi adalah sepatu pantofel berhak rendah. Sepatu Marilyn Monroe, salah satunya yang menarik, adalah sepatu wanita berwarna merah menyala dengan hak tinggi yang kecil. Sepatu Elton John juga punya daya pikat tersendiri. Sepatu Elton dilengkapi sol berpermata, yang konon dulunya sangat disukai Elton meski tak pernah dipakai untuk bermain piano karena solnya yang tinggi sangat menyulitkan Elton bermain musik. Tapi daya tarik museum ini tak cuma koleksi sepatu bintang dunia, tetapi juga koleksi sepatu tradisional yang mencerminkan betapa jejak sepatu dapat mengungkap perjalanan hidup manusia.

Koleksi yang tertua berumur 5.000-an tahun. Koleksi sepatu yang tergolong bersejarah, adalah sepatu tenunan yang konon digunakan pada jenazah yang dimakamkan di kerajaan di Thebes kuno. Ada juga sepatu besi yang menjadi seragam baju zirah abad XV dari Jerman, sepatu lars Ratu Victoria dari Inggris, dan sepatu lars kulit bebek eider milik orang Inuit di Kutub Utara. Museum ini juga mengoleksi lukisan atau poster sepatu-sepatu zaman pra sejarah, yang dapat memberi gambaran lengkap soal kehidupan manusia dan sepatu pada zaman itu.
Dari koleksi sepatu yang ada di meseum ini, dapat disimpulkan bahwa sepatu adalah salah satu hasil karya atau keterampilan manusia yang tertua di dunia. Dari evolusi sepatu dan gambar serta informasi yang ada di museum ini, diketahui bahwa ternyata peralatan dan teknik membuat sepatu yang telah berusia ribuan tahun, hingga kini masih dipakai. Pada dasarnya, cara membuat dan mendesain sepatu tak pernah berubah sejak dahulu, meski gaya, bentuk, dan fungsi sepatu terus berubah, yang mencerminkan kehidupan pemakai dan lingkungannya.

Koleksi sepatu yang dipajang pada sudut Sepatu dan Agama di museum ini, juga menegaskan bahwa usia sepatu barangkali sama panjangnya dengan usia agama. Sebab, para pemimpin agama atau penganut agama pada masa lalu, ternyata juga telah mengenakan sepatu sebagai budaya dan kesehariannya. Salah satu buktinya, adalah sandal gading milik penganut agama Jain di India.

Ada pula lars coklat kusam bertali kulit kasar yang dibuat dengan bentuk yang tak kalah kasarnya, yang disebut sepatu halizah. Menurut adat Yahudi lama, seorang pria bujangan wajib menikahi janda saudara laki-lakinya, asalkan janda itu tidak beranak. Agar bebas, diadakan upacara di muka umum di mana si janda melepaskan ikatan tali dan melepaskan sepatu iparnya. Kisah sepatu lars coklat bernama halizah itu mencerminkan betapa sepatu telah ada ketika manusia mungkin baru belajar tentang bagaimana menyelenggarakan sebuah perkawinan, sebuah hidup yang paling awal.

Museum Bata didirikan oleh Sonja Bata, istri pengusaha sepatu Bata, Thomas Bata. Sonja mengumpulkan sepatunya dari banyak tempat, dari banyak negeri dan dari banyak kesempatan Sonja mulai mengumpulkan sepatu sejak 50 tahun lalu. Ketertarikan Sonja akan sepatu, diawali ketika ia mengunjungi pabrik-pabrik sepatu milik keluarga yang tersebar di seluruh dunia Bata mendirikan pabrik sepatu di Cekoslowakia pada awal abad ini dan mengembangkan bisnisnya dengan membuka pabrik di Toronto sejak 1939. Ternyata, di pabrik-pabrik yang dikunjunginya itu, tersimpan beberapa sepatu tradisional yang pernah mereka produksi, dengan aneka bentuk yang unik. Sepatu-sepatu itu lalu dikumpulkan Sonja.

Sonja sendiri rajin berburu sepatu ke berbagai belahan dunia, terutama tempat-tempat yang menjadi sejarah peradaban manusia seperti Tibet atau Kutub Utara. Salah satu pengalaman menariknya, adalah ketika berburu sepatu di Arktika, pada 1992. Kabarnya, di kawasan itu masih bisa dijumpai pembuat sepatu kamiks, sepatu lars dari kulit anjing laut, yang telah digunakan secara turun temurun. Pembuatnya, diantaranya adalah seorang wanita tua. Wanita itu memakai urat hewan untuk menjahit sepatu, bukan benang seperti yang umum dipakai sekarang. Dan untuk menarik benang yang dijahitkan pada sepatu, perajin sepatu selalu memanfaatkan giginya.

Informasi itu tak meleset. Pembuatnya memang seorang nenek yang sudah keriput. Menurut anak perempuan pembuat sepatu itu, kulit anjing laut keras yang menjadi material sepatu sangat keras. Itu berarti, ongkos pembuatannya sama dengan satu set gigi palsu baru, dan hal itulah yang membuat sepatu kamiks menjadi sangat bernilai di mata Sonja. Sepatu kamiks itu kini termasuk koleksi sepatu yang menarik di museum Sonja. (Tempo)

ABSURDITAS ARSITEKTUR BERGAYA MEDITERANIA

by_Krisen S. Emha
Beberapa waktu yang lalu bahkan sampai saat ini kita sering melihat dan mendengar iklan-iklan dari pengembang baik perumahan maupun apartemen yang diembel-embeli dengan 'Arsitektur Bergaya Mediterania'. Tapi ketika diminta penjelasan tentang 'Arsitektur Bergaya Mediterania', umumnya baik pengembang maupun arsiteknya tidak bisa memberikan penjelasan yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan yang kita peroleh adalah cerita dongeng berupa bualan ilusionis yang mengecoh persepsi dan tidak punya urat arsitektur.

'Arsitektur Bergaya Mediterania' secara ilmiah dalam stream gaya arsitektur memang tidak dikenal. Dalam mengkritisi arsitektur dari penampilan fisik (ruang dan bentuk) ada dua parameter yang biasa dipakai yaitu dari 'gaya arsitektur' dan 'aliran arsitektur'.

Gaya arsitektur biasanya lahir dari tren-tren yang tampil dalam rentang waktu tertentu atau bersifat kontemporer, tidak memiliki ideologi tertentu, biasanya dipopulerkan oleh kritikus di bidang arsitektur dengan melihat ciri-ciri fisik dan kesamaan-kesamaan yang ditampilkan, misalnya arsitektur bergaya 'art-deco', 'post-modern', dan lain-lain.

Adapun aliran arsitektur biasanya lahir dengan mazhab-mazhab tertentu sehingga memiliki ideologi tersendiri, biasanya lahir dari lembaga-lembaga arsitektur, baik lembaga pendidikan maupun perkumpulan-perkumpulan arsitek, misalnya arsitektur beraliran 'bauhau's, aliran 'd' beaux art', aliran 'modern', dan sebagainya. Dan terminologi 'Arsitektur Bergaya Mediterania' tidak ditemukan dalam kedua kerangka tersebut. Ini sering dan masih jadi perdebatan dikalangan arsitek sendiri sampai saat ini.

Berdasarkan historinya, awal perkembangan arsitektur secara ilmiah memang terjadi di kawasan laut mediterania dengan letak geografis antara Benua Afrika, Asia dan Eropa yang dikenal sebagai kawasan Anatolia. Dimulai dari Mesir yaitu zaman Mesir Kuno (2800 - 600 SM) dengan arsitektur piramidanya dan tokoh yang menonjol arsitek Imhotep. Kemudian berlanjut dengan zaman Yunani Kuno dengan arsitektur Acropolis, di sini muncul orde dorik dan orde ionik dan tokoh yang menonjol arsitek Mnesicles.

Zaman Romawi dengan arsitektur Roman dan muncul orde corinthian dan tokoh yang menonjol arsitek Hadrian dan Marcus Vitrivius Pollio. Dengan posisi geografis yang demikian, kawasan mediterania tidak terpengaruh oleh gerakan Rainesans (Kelahiran Kembali) yaitu gerakan kembali ke seni budaya ' Greeko-Roman' pada abad 15 dan 16 mula-mula di Italia, kemudian ke seluruh daratan Eropa.

Le Corbusier adalah arsitek kawakan Prancis yang dalam karya-karya arsitekturnya secara anatomi bercirikan arsitektur bangunan-bangunan yang ada di kawasan mediterania. Hal ini berawal dari pengalamannya menjelajahi kawasan ini ketika dia secara pribadi ingin melepaskan diri dari kemapanan arsitektur di Eropa, terutama di Prancis yang berwujud 'Greeko-Roman'.

Corbu mungkin terinspirasi karya-karya sejarah otentik berisi kenangan-kenangan di daerah timur yang eksotik, yang tidak terpengaruh oleh gerakan Rainesans, dan ditulis dalam bentuk prosa oleh penyair-penyair Perancis yang melakukan perjalanan ke timur. Diantaranya adalah Jainville, Froissart dan Villehardouin pada abad pertengahan (Moyen Age). Corbu melakukan perjalanan yang dinamakan dengan 'Voyage d' Orient' (Perjalanan ke Timur), terutama ke negara-negara mediterania.

Hal inilah yang mempengaruhi rancangan-rancangan Corbu selanjutnya ketika dia kembali ke Paris. Karya-karya Corbu tersebut dinamakan l'Espirit Noveau yang memiliki lima prinsip dan disebut 'cinq points' yaitu; tiang-tiang, taman dalam ruang, jendela lebar dan panjang, tampak depan dan ruang-ruang yang terbuka.

Hal ini merupakan perumusan dari ciri-ciri arsitektur yang ada di kawasan mediterania yaitu mulai dari Al hambra, Granada, Spanyol di Barat sampai ke Istambul, Turki di Timur terutama dari arsitektur mesjid yang beragam bentuknya di kawasan ini. Dan Corbu berhasil menarik benang merah dari kesamaan yang ada, yaitu bentuk jendela yang lebar, tiang-tiang dan ruang terbuka atau taman di dalam bangunan.

Baik Corbu maupun para kritikus di bidang arsitektur tidak berani mempopulerkan terminologi Arsitektur Bergaya Mediterania, tetapi di Indonesia terminologi ini menjadi kemasan mujarab bagi para pengembang dalam memasarkan barang dagangannya. Arsitektur dijadikan semacam alat pemberi status ukuran kekayaan materi, termasuk dengan kemasan Arsitektur Bergaya Mediterania.

Ukuran-ukuran ilmiah telah diabaikan dalam kondisi kapitalisme disegala bidang di masyarakat saat ini. Para arsitek yang terlibat dalam melahirkan desain-desain semacam ini, yang kebanyakan terlibat dengan pengembang telah menenggelamkan identitas diri dan melahirkan karya arsitektur yang anonimitas, yang pada akhirnya diberi label Arsitektur Bergaya Mediterania.

Realitas sosial pemukiman yang ada dalam iklim konsumerisme telah menjadikan arsitektur sebagai ukuran keberhasilan dalam mengumpulkan kekayaan materi, sehingga arsitektur diposisikan sebagai alat pemuas sensual semata. Ini ditangkap oleh sebagian besar pengembang yang berorientasi hedonisme arsitektur dimana desain arsitektur dibebaskan dari kewajiban-kewajiban pengujian ilmiah dan tanggung jawab sosial, yang penting masyarakat menyukainya.

Fenomena Arsitektur bergaya Mediterania ini muncul seiring pertumbuhan proyek-proyek perumahan dan apartemen di Indonesia periode 1990-an. Hal ini mungkin juga dipengaruhi oleh munculnya perumahan-perumahan di sepanjang pantai Teluk San Fransisco ( seperti di Brentwood, Napa Valley, Baverly Hills, Malibu, Hollywood Hills dan Sausalito), California, Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1980-an sampai awal tahun 1990-an.

Penampilan arsitektur di California ini kebayakan berwujud sama dan memiliki kemiripan dengan bentuk-bentuk rumah di kawasan Mediterania yang secara geografis dan topografis memang mirip dengan kawasan Mediterania, walaupun secara konseptual tidak begitu jelas. Bentuk-bentuk bangunan berarsitektur seperti ini sampai ke Indonesia melalui film-film dan acara-acara di televise yang kebanyakan produksi Amerika Serikat dan diproduksi dikawasan ini dimana dalam kehidupan orang sekarang dalam mengatur tingkah laku dan sikap hidup selalu merujuk pada televisi, termasuk dalam menentukan bentuk rumah yang ingin dimiliki.

Padahal perwujudan arsitektur bangunan-bangunan rumah tinggal di California tersebut juga sudah bercampur-baur segala macam gaya arsitektur antara bentuk rumah-rumah di kawasan Mediterania, model Spanyolan sampai yang bergaya Post-Modern. Diantaranya yang sangat gigantik yaitu bangunan The Team Disney Building karya arsitek Michael Graves yang bergaya Post-Modern. Yang terjadi di Indonesia adalah pentransformasian bentuk-bentuk kulit luar tersebut melalui cara penjiplakan dan peniruan secara absurd dan dikatakan sebagai Arsitektur Bergaya Mediterania.

Pada dasarnya wajah arsitektur di Indonesia saat ini didominasi oleh wajah arsitektur kota pada proyek-proyek perumahan dan apartemen yang ditangani oleh pengembang pengusaha. Arsitektur yang muncul merupakan hasil aliansi kekuasaan para pengusaha dan birokrat dalam semangat hedonis kaum elit, melalui iklan penawaran-penawaran desain yang dapat memberi kepuasan sensual dan bisa menarik perhatian khalayak.

Hal ini terjadi sebagaimana di negara berkembang lainnya karena tidak seimbangnya percepatan perkembangan arsitektur didunia yang didominasi oleh Amerika Serikat dengan kemampuan masyarakat kita dalam memahami arsitektur, baik didalam lingkungan masyarakat awam maupun dalam lingkungan masyarakat akademis arsitektur sendiri.

Dalam terminologi Arsitektur Bergaya Mediterania, kemiripan tropis semata dijadikan dasar untuk menghadirkan arsitektur asing, padahal secara konseptual tidak menghasilkan gagasan-gagasan baru baik tentang 'ruang' maupun 'lingkungan'. Yang tampil hanyalah sekedar arsitektur yang pesolek pada perwajahannya dan sulit dipertanggung jawabkan secara historikal maupun kultural. Inilah hasil dari karakter-karakter yang dibangun atas orientasi konsumerisme, epikurisme, hedonisme, elitisme dan westernisme semata, sehingga yang terjadi adalah dramaturgi pelecehan arsitektur. (TEMPO)

Senin, 30 Agustus 2010

GREKO-ROMAN, Teori Arsitektur Yang Muncul Sepanjang Zaman

Oleh: Krisen S. Emha
Selain ruang, bentuk dan fungsi berupa pendekatan metafisika dalam arsitektur teori arsitektur yang abadi dan muncul sepanjang zaman dalam konteks seni bangunan adalah Klasikisme Arsitektur.

Membicarakan Klasikisme Arsitektur berarti membicarakan Historism dalam arsitektur yang terjadi di daratan Eropa pada beberapa putaran zaman, yaitu dari zaman Yunani dan Romawi.

Sempat tenggelam pada abad pertengahan yaitu zaman mulai jatuhnya kekaisaran Romawi Bagian Barat tahun 476 M sampai direbutnya Constantinopel (Istambul) oleh bangsa Turki tahun 1453 M, sepuluh abad yang memisahkan Zaman Kuno dengan Zaman Dunia Baru dengan dimulainya pelayaran menemukan dunia baru dan ditemukannya Benua Amerika oleh Christopher Columbus tahun 1492. Kemudian kembali muncul setelah perang Italia dengan kelahiran Gerakan Renaissance gerakan kembali kesenian-budaya Yunani dan Romawi pada abad 15 dan 16 yang bermula di Italia, kemudian ke seluruh daratan Eropa.

Sejatinya sebelum Renaissance, pada tahun 1334 Arsitektur telah dikatakan sebagai "Ibu dari Seni" dan telah muncul tokoh Renaissance pertama di bidang arsitektur yaitu Filippo Bruno leschi (1377-1446) seorang arsitek, pelukis, pematung, ahli teknik dan ahli matematika. Tahun 1413 Brunoleschi menemukan teknik penggambaran perspektif di Florece yang diterapkan pada desain 'Florence Katedral' (Santa Maria del Fiore) dengan bentuk kubah yang sangat kental dengan sentuhan Renaissance dan Gothic.

Dasar Klasikisme Arsitektur ini juga telah dirumuskan oleh Marcus Vitrivius Pollio pada abad pertama sebelum masehi. Karya asli yang berjudul 'De Architettura Libri Dacem' ini pernah hilang. Pada tahun 1414 Pagio Bracciolini menemukan manuskrip asli Vitrivius ini di perpustakaan Saint Gall Monestry. Oleh Bracciolini temuan manuskrip ini diserahkan kepada Leone Batista Alberti, seorang arsitek, ahli sastra dan budaya klasik Yunani. Pada tahun 1485 Alberti menerbitkan kitab yang berdasarkan karya Vitrivius itu dengan judul De Re Aedificatoria (Masalah tentang arsitektur) sebagai karya posthumous di Florence.

Leone Batista Alberti merumuskan bahwa arsitektur Greko-Roman itu terdiri dari bentuk dasar, berpediment, bentuk lengkung, kubah dan kolom-kolom. Salah satu karya arsitektur dari Alberti adalah Gerja St. Andrea di Mantua, Italia, tahun 1472. Pada tahun 1564 Giocomo Barozi di Vignola mengembangkan pengetahuan ini.

Kitab Leone Batista Alberti ini sangat popular ketika Andrea Palladio (1508-1580) mengembangkan isinya pada tahun 1570 di Vicenza yang berjudul 'Quattro Libri di Architectura' yang terdiri dari 4 buku. Pada abad XVII gaya arsitektur yang terinspirasi dari karya Andrea Palladio (1508-1580) ini popular di Inggris yang dikembangkan oleh arsitek Inggris kawakan, Inigo Jones (1573-1652) yang pernah belajar pada Palladio, kemudian di Amerika sehingga dikatakan sebagai aliran Palladianism.

Salah seorang murid Palladio, Vicenzo Scamozzi (1552-1616) mengembangkan ajaran Palladio tersebut dalam bukunya 'Idea de l'Architectura Universale' tahun 1615. Ajaran ini juga merujuk kepada tulisan Giorgio Vasari Le Vite de'piu eccelenti Architetti, Pittori, et Scultori Italiani (Lives of the Painters, Sculptors and Architects) yang terbit tahun 1550. Vasari dikenal sebagai teman dekat dari Leonardo da vinci.

Dalam tulisan Vasari ini juga diungkapkan tentang lukisan Mona Lisa yang monumental. Lukisan ini diselesaikan oleh Leonardo da Vinci selama 4 tahun (1503-1507) yang merupakan pesanan. Mona Lisa adalah istri dari Florentine Francesco del Giocondo. Leonardo da Vinci mengatakan bahwa lukisannya tersebut belum selesai sebagaimana dengan banyak lukisan dia lainnya dan dia membawanya ke Perancis dan dibeli oleh Francis I untuk dipajang di Louvre.

Menurut Vitrivius ada tiga unsur yang merupakan faktor dasar dalam arsitektur yaitu strength (kekuatan), beauty (keindahan) dan convenience (kenyamanan) yang akan mempengaruhi efek estetis dalam seni bangunan. Vitrivius juga merumuskan kembali prinsip-prinsip proporsi, komposisi dan presisi dari zaman yunani kuno yang disebut Entasis.

Sumber inspirasi utama Vitrivius adalah ornamen-ornamen arsitektur pada bangunan-bangunan zaman Yunani Purba yang banyak dibangun pada masa kepemimpinan Kaisar Pericles (495-429 SM) di Athena dari Dinasty Hellenislic.

Ciri-ciri yang menonjol secara fisik dari teori arsitektur klasikisme ini adalah berupa ornamen-ornamen yang terdapat pada kolom-kolom pada bangunan. Dimana bentuk kolom-kolom tersebut dalam arsitektur disebut sebagai Orde. Ada lima Orde dalam arsitektur yang dikenal sampai sekarang yaitu, Tuscan, Doric, Ionic, Corinthian dan Composit. Orde Tuscan, berasal dari kuil-kuil Etruscan yang merupakan bentuk paling primitif dari ornamen kolom.

Orde Doric, berasal dari kelompok suku bangsa Doria (turunan Italia dan Sisilia), bentuk dari orde doria keliatan kokoh, kuat, sebagai lambang kekuasaan. Orde Ionoc, berasal dari suku bangsa Ionia (Turunan Asia Kecil). Orde Korinthian, merupakan hasil ambisi dari kaum aristokrat kota Korhintia yang kaya dan makmur pada abad 5 SM. Orde Komposit, merupakan perpaduan dari Orde Korhintian dan Ionic sehingga keliatan lebih mewah dan anggun.

Pemakaian orde-orde inilah yang merupakan ciri utama bangunan bergaya Greko-Roman yang selalu muncul sepanjang zaman bahkan sampai kini, dan ini bisa dilihat dari perjalanan perkembangan arsitektur dari zaman ke zaman dari situs-situs arsitektur yang masih ada sampai sekarang. Walaupun diselingi oleh kemunculan Gaya Gothic, Romanesque, Victorian, Moderns sampai Gaya Deconstruction (1989), tapi daya tarik Greko-Roman ini selalu muncul kembali dan hampir melanda seluruh permukaan bumi. Sehingga pengaruh Greko-Roman ini dikatakan sebagai 'Teori Historism dalam Arsitektur'.

Istilah Greko-Roman lahir pertama kali atas kesepakatan kongres para arkeolog di Caen, Perancis tahun 1825 dengan sebutan 'Grieken Romaneschestijl'. Pengaruh terakhir dari Greko-Roman ini terhadap perkembangan gaya-gaya arsitektur terjadi pada periode Gaya Postmodern dalam arsitektur, sehingga sering juga disebut sebagai 'Postmodern-Classicism Architecture'.

Beberapa bangunan terkenal sepanjang masa yang banyak memakai orde-orde ini antara lain; Colloseum dan Pantheon di Roma, Mesjid Sulaymanae di Istambul Turki, Le Lovre di Paris. St, Peter's di Roma, Bahkan Gedung Putih di Washington dan tak ketinggalan Istana Negara di Jakarta. Greko-Roman dengan tampilan orde-orde ini adalah ornamen arsitektur yang tidak mengenal batas-batas kultural dan menembus zaman. Mulai dari bangunan Keagamaan, Istana Pemerintahan, bahkan sampai kerumah-rumah penduduk di pelosok.

Di Indonesia, pengaruh Greko-Roman terjadi pada pertengahan Abad XVII dimana mulai dibangunnya rumah-rumah mewah dan besar (Landhuizen) milik para pejabat tinggi VOC. Arsitektur rumah-rumah tersebut berbentuk bangunan Indhies dengan pemakaian kolom-kolom berorde pada fasade bangunan.

Ada beberapa bangunan peninggalan colonial ini yang masih terlihat sampai sekarang yang umumnya memakai kolom-kolom berorde dorik antara lain; Istana Merdeka merupakan bekas Istana Gubernur Jenderal di Riswijk, Gedung Juang 45, Istana Bogor, Klenteng Sentiong, Gedung Pancasila, Museum Nasional (Museum Gajah), dan juga di beberapa kota besar lainnya di Indonesia.

Sedangkan yang berornamen kolom orde komposit yang merupakan gabungan dari orde korhintian dan ionic dapat dilihat pada kolom-kolom bangunan Keraton, seperti pada Gedung Agung Yogyakarta, Gedung Pagelaran Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Ornamen pada kolom-kolom jati ini terbuat dari besi cor dan dibawa lansung dari jerman yang merupakan produksi dari pabrik Kupp.

Pengaruh Greko-Roman dalam arsitektur ini tidak mengenal batas-batas golongan masyarakat dan sangat bersifat egaliter dan menembus segala zaman. Mulai dari bangunan-bangunan Negara,istana, bangunan keagamaan bahkan pada rumah-rumah penduduk yang terdapat digang-gang sempit. Inilah peradaban manusia pertama yang sangat mendunia, jauh sebelum era blue-jeans, Coca-cola dan Mc-Donald!. (TEMPO)

Jumat, 02 Juli 2010

GREKO-ROMAN, TEORI ARSITEKTUR YANG MUNCUL SEPANJANG ZAMAN

Selain ruang, bentuk dan fungsi berupa pendekatan metafisika dalam arsitektur teori arsitektur yang abadi dan muncul sepanjang zaman dalam konteks seni bangunan adalah Klasikisme Arsitektur. Membicarakan Klasikisme Arsitektur berarti membicarakan Historism dalam arsitektur yang terjadi di daratan Eropa pada beberapa putaran zaman, yaitu dari zaman Yunani dan Romawi.

Sempat tenggelam pada abad pertengahan yaitu zaman mulai jatuhnya kekaisaran Romawi Bagian Barat tahun 476 M sampai direbutnya Constantinopel (Istambul) oleh bangsa Turki tahun 1453 M, sepuluh abad yang memisahkan Zaman Kuno dengan Zaman Dunia Baru dengan dimulainya pelayaran menemukan dunia baru dan ditemukannya Benua Amerika oleh Christopher Columbus tahun 1492. Kemudian kembali muncul setelah perang Italia dengan kelahiran Gerakan Renaissance gerakan kembali kesenian-budaya Yunani dan Romawi pada abad 15 dan 16 yang bermula di Italia, kemudian ke seluruh daratan Eropa.

Sejatinya sebelum Renaissance, pada tahun 1334 Arsitektur telah dikatakan sebagai "Ibu dari Seni" dan telah muncul tokoh Renaissance pertama di bidang arsitektur yaitu Filippo Bruno leschi (1377-1446) seorang arsitek, pelukis, pematung, ahli teknik dan ahli matematika. Tahun 1413 Brunoleschi menemukan teknik penggambaran perspektif di Florece yang diterapkan pada desain 'Florence Katedral' (Santa Maria del Fiore) dengan bentuk kubah yang sangat kental dengan sentuhan Renaissance dan Gothic.

Dasar Klasikisme Arsitektur ini juga telah dirumuskan oleh Marcus Vitrivius Pollio pada abad pertama sebelum masehi. Karya asli yang berjudul 'De Architettura Libri Dacem' ini pernah hilang. Pada tahun 1414 Pagio Bracciolini menemukan manuskrip asli Vitrivius ini di perpustakaan Saint Gall Monestry. Oleh Bracciolini temuan manuskrip ini diserahkan kepada Leone Batista Alberti, seorang arsitek, ahli sastra dan budaya klasik Yunani. Pada tahun 1485 Alberti menerbitkan kitab yang berdasarkan karya Vitrivius itu dengan judul De Re Aedificatoria

(Masalah tentang arsitektur) sebagai karya posthumous di Florence.

Leone Batista Alberti merumuskan bahwa arsitektur Greko-Roman itu terdiri dari bentuk dasar, berpediment, bentuk lengkung, kubah dan kolom-kolom. Salah satu karya arsitektur dari Alberti adalah Gerja St. Andrea di Mantua, Italia, tahun 1472. Pada tahun 1564 Giocomo Barozi di Vignola mengembangkan pengetahuan ini.

Kitab Leone Batista Alberti ini sangat popular ketika Andrea Palladio (1508-1580) mengembangkan isinya pada tahun 1570 di Vicenza yang berjudul 'Quattro Libri di Architectura' yang terdiri dari 4 buku. Pada abad XVII gaya arsitektur yang terinspirasi dari karya Andrea Palladio (1508-1580) ini popular di Inggris yang dikembangkan oleh arsitek Inggris kawakan, Inigo Jones (1573-1652) yang pernah belajar pada Palladio, kemudian di Amerika sehingga dikatakan sebagai aliran Palladianism.

Salah seorang murid Palladio, Vicenzo Scamozzi (1552-1616) mengembangkan ajaran Palladio tersebut dalam bukunya 'Idea de l'Architectura Universale' tahun 1615. Ajaran ini juga merujuk

kepada tulisan Giorgio Vasari Le Vite de'piu eccelenti Architetti, Pittori, et Scultori Italiani (Lives of the Painters, Sculptors and Architects) yang terbit tahun 1550. Vasari dikenal sebagai teman dekat dari Leonardo da vinci.

Dalam tulisan Vasari ini juga diungkapkan tentang lukisan Mona Lisa yang monumental. Lukisan ini diselesaikan oleh Leonardo da Vinci selama 4 tahun (1503-1507) yang merupakan

pesanan. Mona Lisa adalah istri dari Florentine Francesco del Giocondo. Leonardo da Vinci mengatakan bahwa lukisannya tersebut belum selesai sebagaimana dengan banyak lukisan dia lainnya dan dia membawanya ke Perancis dan dibeli oleh Francis I untuk dipajang di Louvre.

Menurut Vitrivius ada tiga unsur yang merupakan faktor dasar dalam arsitektur yaitu strength(kekuatan), beauty(keindahan) dan convenience (kenyamanan) yang akan mempengaruhi efek estetis dalam seni bangunan. Vitrivius juga merumuskan kembali prinsip-prinsip proporsi, komposisi dan presisi dari zaman yunani kuno yang disebut Entasis.

Sumber inspirasi utama Vitrivius adalah ornamen-ornamen arsitektur pada bangunan-bangunan zaman Yunani Purba yang banyak dibangun pada masa kepemimpinan Kaisar Pericles (495-429 SM) di Athena dari Dinasty Hellenislic.

Ciri-ciri yang menonjol secara fisik dari teori arsitektur klasikisme ini adalah berupa ornamen-ornamen yang terdapat pada kolom-kolom pada bangunan. Dimana bentuk kolom-kolom tersebut dalam arsitektur disebut sebagai Orde. Ada lima Orde dalam arsitektur yang dikenal sampai sekarang yaitu, Tuscan, Doric, Ionic, Corinthian dan Composit. Orde Tuscan, berasal dari kuil-kuil Etruscan yang merupakan bentuk paling primitif dari ornamen kolom.

Orde Doric, berasal dari kelompok suku bangsa Doria (turunan Italia dan Sisilia), bentuk dari orde doria keliatan kokoh, kuat, sebagai lambang kekuasaan. Orde Ionoc, berasal dari suku bangsa Ionia (Turunan Asia Kecil). Orde Korinthian, merupakan hasil ambisi dari kaum aristokrat kota Korhintia yang kaya dan makmur pada abad 5 SM. Orde Komposit, merupakan perpaduan dari Orde Korhintian dan Ionic sehingga keliatan lebih mewah dan anggun.

Pemakaian orde-orde inilah yang merupakan ciri utama bangunan bergaya Greko-Roman yang selalu muncul sepanjang zaman bahkan sampai kini, dan ini bisa dilihat dari perjalanan perkembangan arsitektur dari zaman ke zaman dari situs-situs arsitektur yang masih ada sampai sekarang. Walaupun diselingi oleh kemunculan Gaya Gothic, Romanesque, Victorian, Moderns sampai Gaya Deconstruction (1989), tapi daya tarik Greko-Roman ini selalu muncul kembali dan hampir melanda seluruh permukaan bumi. Sehingga pengaruh Greko-Roman ini dikatakan sebagai 'Teori Historism dalam Arsitektur'.

Istilah Greko-Roman lahir pertama kali atas kesepakatan kongres para arkeolog di Caen, Perancis tahun 1825 dengan sebutan 'Grieken Romaneschestijl'. Pengaruh terakhir dari Greko-Roman ini terhadap perkembangan gaya-gaya arsitektur terjadi pada periode Gaya Postmodern dalam arsitektur, sehingga sering juga disebut sebagai 'Postmodern-Classicism Architecture'.

Beberapa bangunan terkenal sepanjang masa yang banyak memakai orde-orde ini antara lain; Colloseum dan Pantheon di Roma, Mesjid Sulaymanae di Istambul Turki, Le Lovre di Paris. St, Peter's di Roma, Bahkan Gedung Putih di Washington dan tak ketinggalan Istana Negara di Jakarta. Greko-Roman dengan tampilan orde-orde ini adalah ornamen arsitektur yang tidak mengenal batas-batas kultural dan menembus zaman. Mulai dari bangunan Keagamaan, Istana Pemerintahan, bahkan sampai kerumah-rumah penduduk di pelosok.

Di Indonesia, pengaruh Greko-Roman terjadi pada pertengahan Abad XVII dimana mulai dibangunnya rumah-rumah mewah dan besar (Landhuizen) milik para pejabat tinggi VOC. Arsitektur rumah-rumah tersebut berbentuk bangunan Indhies dengan pemakaian kolom-kolom berorde pada fasade bangunan.

Ada beberapa bangunan peninggalan colonial ini yang masih terlihat sampai sekarang yang umumnya memakai kolom-kolom berorde dorik antara lain; Istana Merdeka merupakan bekas Istana Gubernur Jenderal di Riswijk, Gedung Juang 45, Istana Bogor, Klenteng Sentiong, Gedung Pancasila, Museum Nasional (Museum Gajah), dan juga di beberapa kota besar lainnya di Indonesia.

Sedangkan yang berornamen kolom orde komposit yang merupakan gabungan dari orde korhintian dan ionic dapat dilihat pada kolom-kolom bangunan Keraton, seperti pada Gedung Agung Yogyakarta, Gedung Pagelaran Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Ornamen pada kolom-kolom jati ini terbuat dari besi cor dan dibawa lansung dari jerman yang merupakan produksi dari pabrik Kupp.


Pengaruh Greko-Roman dalam arsitektur ini tidak mengenal batas-batas golongan masyarakat dan sangat bersifat egaliter dan menembus segala zaman. Mulai dari bangunan-bangunan Negara,istana, bangunan keagamaan bahkan pada rumah-rumah penduduk yang terdapat digang-gang sempit. Inilah peradaban manusia pertama yang sangat mendunia, jauh sebelum era blue-jeans, Coca-cola dan Mc-Donald!

(TEMPO)

ANDA PENGUNJUNG KE :