Selasa, 05 Maret 2013

Surabaya Tahun 1930-an

Gerbang Jalan Kembang Jepun Dari Arah Timur Tahun 1930
Kawasan Jembatan Merah Lurus Ke Jl. Kembang Jepun Di Pinggir Kalimas Foto Diambil Dari Atap Gedung Internatio Th. 1930

Gedung Lindeteves Tahun 1930

Jl. Pahlawan Depan Kantor Gubernur Jatim, Depan Kantor Pengadilan Tinggi Yg Sekarang Sudah Dibongkar & Dirikan Tugu Pahlawan (31Agustus 1935)

Jl. Pahlawan Tahun 1930

Jl. Pahlawan (tempo dulu), Depan Kantor Gubernur Jatim Saat Upacara HUT Ratu Wilhelmina (31 Agustus 1935)


Semua Koleksi Foto Di Atas Adalah Dok Yousri dari Surabaya Tempo Dulu.....

Surabaya Tahun 1897

Peta Soerabaja Tahoen 1897

Kamis, 28 Februari 2013

M.H. THAMRIN....

Jl. Merdeka Barat - MH. Thamrin Tahun 1950an
Jl. M.H. Thamrin Tahun 1965-an

Jl. M.H. Thamrin Tahun 1980-an

Kamis, 31 Januari 2013

Memadukan Unsur Tradisional Dalam Rumah Modern


Arsitektur tradisional merupakan bentukan arsitektur yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mempelajari bangunan tradisional berarti mempelajari tradisi masyarakat yang lebih dari sekadar tradisi membangun secara fisik. Selain pertimbangan tradisi, masyarakat terdahulu juga mempertimbangkan kondisi alam. Sebagai daerah yang tumbuh dari masyarakat tradisional, arsitektur Kalimantan Barat memiliki berbagai macam kreasi bentuk rumah tinggal. Di antaranya konsep rumah Melayu dan konsep rumah Dayak. Bentukan-bentukan tersebut tercipta didasarkan oleh pengalaman nenek moyang yang sudah sangat terlatih membaca kontekstualitas alam. Sehingga penerapannya sangat green dan sesuai dengan iklim daerah tropis.

Saat ini modernisasi arsitektur dunia bergerak ke arah bangunan-bangunan dengan konsep green architecture yang secara tidak langsung bagi masyarakat Indonesia berarti kembali mengangkat “arsitektur-arsitektur rakyat” yang selama ini terlupakan. Karakter rumah tinggal Melayu dan Dayak yang memiliki ciri khas kebudayaan Kalimantan Barat setidaknya dapat dipertahankan bentuknya.

Konsep-konsep tradisional tersebut tidak kalah menariknya dengan konsep modern saat ini. Bahkan kombinasi keduanya akan melahirkan trend baru yang lebih unik namun tetap kontekstual dengan lingkungan. Misalnya penggunaan konsep rumah panggung, ruang lantai bawah dapat digunakan sebagai ruang-ruang pendukung seperti garasi atau ruang tamu maupun dapur bersih. Dan lantai atas digunakan sebagai ruang tidur.

Selain mengadopsi bentuk rumah panggung, kita juga dapat menggunakan unsur pendukung lain misalnya penggunaan jendela atau pintu tradisional Melayu. Keuntungan penggunaan sistem jendela tersebut yakni menyalurkan aliran udara lebih maksimal sehingga sistem penghawaan alami di dalam rumah lebih baik.

Penggunaan konsep tradisional di dalam rumah modern juga dapat digunakan pada prinsip rumah tradisional Dayak yang menutup semua jendela dan pintu kemudian dibuka kembali di saat pagi hari. Rumah modern pada contoh di bawah ini menggunakan prinsip tersebut. Sistem sliding door (pintu geser) digunakan ada fasad lantai atas sehingga tampilannya lebih cantik dan unik.

Rumah tradisional layak dipertahankan karena merupakan warisan budaya maupun tradisi masyarakat. Namun apabila perkembangan arsitektur mendorong terbentuknya bentuk baru yang lebih diinginkan, memadukan unsur tradisional dengan unsur modern juga dapat dilakukan. Penggunaan unsur tradisional memiliki nilai kontekstualitas lingkungan yaitu kondisi alam maupun nilai tradisi masyarakat yang terkandung di dalamnya. Siapa lagi kalau bukan kita yang mempertahankan karakter budaya daerah kita sendiri.

by. Indah Kartika Sari, ST

Sumber : equator-news

Jumat, 31 Agustus 2012

Rumah Tradisional Manggarai Raih Penghargaan UNESCO!

BANGKOK, KOMPAS.com - Indonesia masih bisa terus berbangga dengan aset budaya tradisionalnya. Pasalnya, Mbaru Niang, rumah tradisional berbentuk kerucut milik suku Manggarai, Senin (27/8/2012) lalu, mendapatkan Award of Excellence dari UNESCO.

Penghargaan internasional untuk rumah tradisional yang berada di desa Wae Rebo, Flores, itu diumumkan di Bangkok dalam acara UNESCO Asia-Pasific Awards 2012. Penghargaan ini merupakan bentuk penghormatan atas usaha yang dilakukan oleh siapapun, baik pribadi maupun organisasi swasta, karena telah berhasil memperbaiki dan melakukan konservasi pada struktur bangunan yang memiliki nilai turun temurun dalam sebuah wilayah.

Para juri panel yang terdiri dari berbagai pakar konservasi internasional terpukau dengan submisi tahun ini. Tim Curtis, Ketua Juri dan Chief of Cultur Unit, UNESCO Bangkok, mengatakan, perbedaan tipe proyek yang masuk begitu menarik dan menyemangati, mulai masalah konservasi, jalanan urban, properti milik militer, sampai situs arkeologi.

"Award of Excellence telah diberikan kepada Mbaru Niang, yang melambangkan sebuah jenis baru konservasi arsitektur. Warisan dan bentuk pengetahuan tradisional menjadi dasar metode konservasi," kata Curtis.

Proyek pembangunan kembali Mbaru Niang diinisiasi oleh sukarelawan dari Yayasan Rumah Asuh. Para juri menilai, upaya para sukarelawan tersebut sungguh luar biasa, mulai dari kesuksesan mereka terlibat dalam berbagai masalah konservasi di tingkat lokal, dengan mempelajari pengetahuan tradisional setempat, melanjutkan bentur arsitektur, serta praktik konstruksi. Proyek tersebut telah membangun kembali lingkungan setempat yang berkelanjutan dan telah mempromosikan kebanggaan dan semangat komunitas ini.

Selain Mbaru Niang, penghargaan juga diberikan kepada berbagai bangunan lain di dunia. Awards of Distinction diberikan kepada Bangunan Sethna di Mumbai, India dan Sistem Pengairan di Hampi, India. Awards of Merit diberikan kepada Zhizhusi Complex di Beijing, dan Mesjid Khilingrong di Shigar, Pakistan. Dua Honourable Mentions juga diumumkan, termasuk di dalamnya Willian Street Precinct di Perth, Australia, dan Benteng Jaisalmer di Rajasthan, India.

Adapun proyek yang layak mendapatkan nominasi harus berumur lebih dari 50 tahun dan proses restorasinya harus sudah dilakukan selama 10 tahun belakangan. Bangunan juga harus dapat digunakan setidaknya setahun dari pengumuman penghargaan.

UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation 2012 ini didukung oleh Macau Foundation. Baik UNESCO dan Macau Foundation, keduanya sama-sama melestarikan dan mengembangkan pentingnya warisan budaya milik masyarakat dunia.
(Sumber: http://www.unescobkk.org)

ANDA PENGUNJUNG KE :