Sabtu, 19 Juni 2010

"ANDO" Arsitek Yang Lihai Memainkan Cahaya

Arsitek Jepang Tadao Ando dinobatkan sebagai penerima AIA Gold Medal 2002, penghargaan tertinggi yang diberikan oleh American Institute of Architects. Penghargaan itu diberikan atas dedikasi Ando di dunia arsitektur, termasuk pemikirannya yang banyak membawa pengaruh terhadap arsitektur dunia. Penghargaan yang diberikan pada akhir tahun lalu itu sekaligus menjadikan Ando sebagai penerima medali AIA yang ke-59. "Sebuah karya bukan pemikiran semalam. Untuk itu, saya akan tetap terus berkarya," kata Tadao Ando.

David H. Watkins, tim juri yang ikut memberi penilaian menjelaskan bila Ando adalah arsitek yang mampu memadukan seni artistik dengan sentuhan intelektual. Hal itu tercermin dalam banyak karyanya, baik berupa gedung-gedung besar dan kecil. "Karya Ando sangat inspiratif. Ia mampu menggerakkan ide-ide baru demi kemajuan arsitektur," katanya.

Tadao Ando lahir di Osaka, Jepang, pada 1941. Pelajaran arsitektur diperolehnya dengan cara membaca dan menyelami karya-karya arsitektur di banyak negara, melalui perjalanan keliling dunia. Edukasi otodidaknya itu dimulai dengan menikmati arsitektur di Afrika, Eropa dan Amerika. Pada 1970 ia mendirikan Tadao Ando Architect & Associates. Pada 1976, namanya mulai melambung setelah mendesain Azuma House.

Sejak itulah Ando mulai dikenal sebagai arsitek yang disegani. Karya-karyanya banyak tersebar di mancanegara. Ia misalnya, pernah membangun Church on the Water, Rokko Housing One, Naoshima Contemporary Art Museum, Children's Museum Himeji, Gedung Pulitzer Foundation for the Arts di St. Louis, Missouri, serta Modern Museum of Fort Worth di Fort Worth, Texas, yang baru dirampungkan tahun lalu sekaligus menjadi karya terbaru yang dinilai oleh tim juri.

Dari sejumlah karya-karyanya gedung, rumah dan bangunan publik ada satu hal yang terasa menonjol dan menjadi ciri khas Ando. Karya-karyanya itu banyak dipengaruhi oleh caranya memainkan cahaya yang diekspresikan dalam bentuk arsitektur. "Tujuan dari desain saya adalah membuat sebuah desain yang tampak natural dan banyak aspek dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, memperhitungkan cahaya adalah faktor mutlak," kata Ando.

Hal lain yang juga dapat dirasakan melalui karya-karyanya, adalah penolakan desain yang berkonotasi konsumerisme semacam tren yang berkembang cepat dalam dunia arsitektur saat ini. Hal itu diwujudkan dengan menolak membuat desain diluar skenario besar sebuah tata kota. Ia selalu berusaha membuat desain sesuai dengan kebijakan pemerintah setempat dan membangun sebuah bangunan yang serasi dengan lingkungannya, tanpa mengurangi nilai estetika dan keindahan dari desain itu sendiri.

Dari segi material, ia juga lebih suka menggunakan bahan-bahan yang natural. Dan yang penting adalah keserasian. Kendati demikian, ia juga tak menolak aliran modern seperti membuat gedung dengan dinding kaca, seperti yang dilakukan di Jepang dan negara-negara lain di dunia. "Kita tak bisa menolak perkembangan sebuah desain. Tapi kita bisa memilih untuk memilah-milah apa yang baik menurut kita dan lingkungan kita," katanya.
(TEMPO)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Komentar Anda Tidak Menyinggung SARA

ANDA PENGUNJUNG KE :