Minggu, 10 Oktober 2010

MUSEUM BATA, Kisah Manusia dari Jejak Sepatu

Meseum Sepatu Bata adalah museum sepatu yang terlengkap di dunia. Lebih dari 10 ribu pasang sepatu tersimpan rapi di museum yang didirikan pada 1995 itu. Selain sepatu aktor dan aktris Hollywood seperti Marylin Monroe dan aktor Robert Redford, sepatu para pemimpin dunia seperti istri mantan presiden Filipina Imelda Marcos atau sepatu milik mantan PM India Indira Gandhi juga tersimpan di meseum yang terletak di Toronto, Kanada, yang menghabiskan investasi hingga US$ 12 juta.

Sepatu koleksi Robert Redford misalnya, kebanyakan sepatu lars. Sepatu Imelda Marcos umumnya sepatu wanita dengan hak tinggi. Sepatu milik mantan PM India, Indira Gandhi adalah sepatu pantofel berhak rendah. Sepatu Marilyn Monroe, salah satunya yang menarik, adalah sepatu wanita berwarna merah menyala dengan hak tinggi yang kecil. Sepatu Elton John juga punya daya pikat tersendiri. Sepatu Elton dilengkapi sol berpermata, yang konon dulunya sangat disukai Elton meski tak pernah dipakai untuk bermain piano karena solnya yang tinggi sangat menyulitkan Elton bermain musik. Tapi daya tarik museum ini tak cuma koleksi sepatu bintang dunia, tetapi juga koleksi sepatu tradisional yang mencerminkan betapa jejak sepatu dapat mengungkap perjalanan hidup manusia.

Koleksi yang tertua berumur 5.000-an tahun. Koleksi sepatu yang tergolong bersejarah, adalah sepatu tenunan yang konon digunakan pada jenazah yang dimakamkan di kerajaan di Thebes kuno. Ada juga sepatu besi yang menjadi seragam baju zirah abad XV dari Jerman, sepatu lars Ratu Victoria dari Inggris, dan sepatu lars kulit bebek eider milik orang Inuit di Kutub Utara. Museum ini juga mengoleksi lukisan atau poster sepatu-sepatu zaman pra sejarah, yang dapat memberi gambaran lengkap soal kehidupan manusia dan sepatu pada zaman itu.
Dari koleksi sepatu yang ada di meseum ini, dapat disimpulkan bahwa sepatu adalah salah satu hasil karya atau keterampilan manusia yang tertua di dunia. Dari evolusi sepatu dan gambar serta informasi yang ada di museum ini, diketahui bahwa ternyata peralatan dan teknik membuat sepatu yang telah berusia ribuan tahun, hingga kini masih dipakai. Pada dasarnya, cara membuat dan mendesain sepatu tak pernah berubah sejak dahulu, meski gaya, bentuk, dan fungsi sepatu terus berubah, yang mencerminkan kehidupan pemakai dan lingkungannya.

Koleksi sepatu yang dipajang pada sudut Sepatu dan Agama di museum ini, juga menegaskan bahwa usia sepatu barangkali sama panjangnya dengan usia agama. Sebab, para pemimpin agama atau penganut agama pada masa lalu, ternyata juga telah mengenakan sepatu sebagai budaya dan kesehariannya. Salah satu buktinya, adalah sandal gading milik penganut agama Jain di India.

Ada pula lars coklat kusam bertali kulit kasar yang dibuat dengan bentuk yang tak kalah kasarnya, yang disebut sepatu halizah. Menurut adat Yahudi lama, seorang pria bujangan wajib menikahi janda saudara laki-lakinya, asalkan janda itu tidak beranak. Agar bebas, diadakan upacara di muka umum di mana si janda melepaskan ikatan tali dan melepaskan sepatu iparnya. Kisah sepatu lars coklat bernama halizah itu mencerminkan betapa sepatu telah ada ketika manusia mungkin baru belajar tentang bagaimana menyelenggarakan sebuah perkawinan, sebuah hidup yang paling awal.

Museum Bata didirikan oleh Sonja Bata, istri pengusaha sepatu Bata, Thomas Bata. Sonja mengumpulkan sepatunya dari banyak tempat, dari banyak negeri dan dari banyak kesempatan Sonja mulai mengumpulkan sepatu sejak 50 tahun lalu. Ketertarikan Sonja akan sepatu, diawali ketika ia mengunjungi pabrik-pabrik sepatu milik keluarga yang tersebar di seluruh dunia Bata mendirikan pabrik sepatu di Cekoslowakia pada awal abad ini dan mengembangkan bisnisnya dengan membuka pabrik di Toronto sejak 1939. Ternyata, di pabrik-pabrik yang dikunjunginya itu, tersimpan beberapa sepatu tradisional yang pernah mereka produksi, dengan aneka bentuk yang unik. Sepatu-sepatu itu lalu dikumpulkan Sonja.

Sonja sendiri rajin berburu sepatu ke berbagai belahan dunia, terutama tempat-tempat yang menjadi sejarah peradaban manusia seperti Tibet atau Kutub Utara. Salah satu pengalaman menariknya, adalah ketika berburu sepatu di Arktika, pada 1992. Kabarnya, di kawasan itu masih bisa dijumpai pembuat sepatu kamiks, sepatu lars dari kulit anjing laut, yang telah digunakan secara turun temurun. Pembuatnya, diantaranya adalah seorang wanita tua. Wanita itu memakai urat hewan untuk menjahit sepatu, bukan benang seperti yang umum dipakai sekarang. Dan untuk menarik benang yang dijahitkan pada sepatu, perajin sepatu selalu memanfaatkan giginya.

Informasi itu tak meleset. Pembuatnya memang seorang nenek yang sudah keriput. Menurut anak perempuan pembuat sepatu itu, kulit anjing laut keras yang menjadi material sepatu sangat keras. Itu berarti, ongkos pembuatannya sama dengan satu set gigi palsu baru, dan hal itulah yang membuat sepatu kamiks menjadi sangat bernilai di mata Sonja. Sepatu kamiks itu kini termasuk koleksi sepatu yang menarik di museum Sonja. (Tempo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Komentar Anda Tidak Menyinggung SARA

ANDA PENGUNJUNG KE :